
Panggilan hidup seseorang adalah panggilan untuk hidup jujur, rendah hati, pemurah (akhlaq) ; bukan panggilan untuk sukses. Tujuan hidup seseorang adalah memperhatikan, mengabdi, mencintai dan menuju Tuhannya, Bukan untuk berprestasi. (YM.Abu)

|
“ Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat tempat duduknya dari pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya.” ( HR. At-Tirmidzi )
“ Penyebab utama... Selengkapnya |
| . |
Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain, namun dia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya.
Tuhan selalu menjawab ....tidak?
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress, Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya:
Pada suatu hari seorang lelaki datang kepada Rabiah al-Adawiyah al-Bashriyah dan bertanya, "Saya ini telah banyak melakukan dosa. Maksiat saya bertimbun melebihi gunung-gunung.
“ Sesungguhnya seorang hamba bila ia berdri sholat, maka Allah membuka untuknya tirai hijab, dan langsung dihadapinya, dan berdiri tegak para malaikat dari atas bahunya hingga langit, megnikuti shalatnya dan mengaminkan do’anya. Dan seorang yang shalat itu ditaburi rahmat dari langit hingga ubun kepalanya. Dan dipanggil oleh suara : “Andaikata orang yang munajat ini mengetahui siapakah yang diajak bicara, tidak akan berhenti (memutuskan) shalatnya. Dan sesungguhnya pintu-pintu langit terbuka untuk orang yang shalat. Dan sesungguhnya Allah membanggakan barisan orang yang shalat dihadapan malaikat Nya.
Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, “ Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh, rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau, apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati”. Sang Guru tersenyum, “ Oh, kamu sakit.” “Tidak Guru, saya tidak sakit, saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Utu sebabnya saya ingin mati”.
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, “ Kamu sakit. Dan penyakitmu itu bernama, ALERGI HIDUP, Ya, kamu alergi terhadap kehidupan”.
Banyak sekali diantara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan status quo, kita berhenti ditempat. Kita tidak ikut mengalir, itu sebabnya kita jatuh sakit, kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.
Usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumahtangga, pertengkaran kecil itu wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
“ Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan mengikuti petunjukku “, sahut Sang Guru.
“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” Pria itu menolak tawaran sang Guru. “Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?” “ Ya, saya memang bosan hidup “.
“ baiklah, kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”
Kini, giliran pria itu menjadi bingung, sebelumnya semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh, alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Setibanya dirumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yan gdisebut “obat” oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketengan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai, tinggal 1 malam = 1hari, dan ia akan mati, ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau, suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia cium bibir istrinya dan berbisik “Sayang, aku mencintaimu”. Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat keluar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali kerumah, ia menemukan isterinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Sang isteri pun merasa aneh sekali, “ Sayang, apa yang terjadi hari ini ? selama ini mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang “
Dikantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “ Hari ini Bos kita kok aneh ya ?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Ramah, toleran dan menghargai. Tiba-tiba hidup menjadi indah, ia mulai menikmatinya.
Ia mendatangi sang Guru lagi, melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang terjadi, “ Buang saja botol itu. Isinya air biasa, kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air, dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan, kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan, itulah kunci kebahagiaan, itulah jalan menuju ketenangan.
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami sang Guru. Sejak saat itu ia selalu bahagia, selalu tenang dan selalu HIDUP.
Air, jika dibiarkan terus menggenang, tanpa aliran, lama-lama akan menjadi sarang penyakit. Demikian juga udara, jika dibiarkan berhenti, tak berhembus, akan menimbulkan kepengapan dan akhirnya merusak pernapasan. Semua harus bergerak, tidak boleh ada yang diam.
Adalah kenyataan bahwa segala ciptaan Allah selalu bergerak, Bumi, matahari, bulan, bintang dan semua tata surya berotasi tiada henti. sekali terhenti akan terjadi kerusakan dan bencana yang luar biasa. Bahkan makhluk-makhluk mikro seperti bakteri dan virus pun bergerak.
Hukum Tuhan yang terjadi pada alam raya itu sesungguhnya terjadi juga pada diri manusia, secara fisik, jika manusia diam, dan tidak melakukan aktifitas maka dalam kurun waktu tertentu kesehatannya pasti terganggu. Selain mudah lelah, berbagai penyakit akan mulai berdatangan.
Demikian pula halnya pikiran.
Seseorang yang membiarkan otaknya berhenti berfikir, maka dalam jangka waktu tertentu pikirannya akan terganggu. Sulit berpikir logis dan sistematis. Berpikirnya meloncat-loncat, sulit mengingat dan mudah lupa. Menurut penelitian ilmiah, orang yang kurang terbiasa menggunakan pikirannya, pada usia tuanya akan menjadi pikun.
Jika rumus pergerakan itu terjadi pada alam dan individu manusia, maka hal yang sama juga pasti berlaku pada sebuah masyarakat dan organisasi.
Jangan sekali-kali berhenti, dian atau stagnan. Karena diam itu berarti mati. Diam itu bisa membawa penyakit. Diam itu tidak sehat. Jangan takut perubahan, perbaikan dan pembaruan. Sebab semua ciptaan-Nya ditakdirkan selalu bergerak dalam sebuah rotasi yang telah ditentukan.
Nasehat ini dikutip dari kiriman email Dedy HB. Wicaksono pada milis NU Nihon. Saudara Dedy sendiri mengutip email Fidri Beno yang baru saja berkunjung ke Al-Walid al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Ba’Alawy Pekalongan, Ketua Jam'iyyah Ahlut Tariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMN), organisasi di bawah NU yang mengkoordinasi jemaah tarekat Mu'tabarah. Mengingat pentingnya isi dari nasehat ini, maka redaksi memuatnya untuk kaum muslimin sekalian. Namun karena beberapa nasehat yang disampaikan kepada tamu-tamu beliau ini terdapat beberapa poin yang berbeda maka redaksi akan memuatnya secara terpisah dengan judul yang terkait.
Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung. “ Kenapa kau selalu murung, Nak ? bukankah banyak hal yang indah didunia ini ? kemana perginya wajah bersyukurmu ? “ sang Guru bertanya.





